Home > Cerita Relawan > Catatan Kecil Seorang Relawan Amatir – Gempa Bengkulu 2007

Catatan Kecil Seorang Relawan Amatir – Gempa Bengkulu 2007

CIMG0069

Inisiasi
Untuk penanganan bencana alam, saya pertama kali terjun ke bencana gempa Bengkulu pada tahun 2007. Sama seperti gempa yang terjadi di Jabar Selatan, gempa Bengkulu pun terjadi saat pertengahan Diklatsar KORSA dan saat bulan Ramdhan. Bedanya, jika saat ini saya jadi panitia, maka saat itu saya menjadi pesertanya.

Saat itu, Kang Igun selaku instruktur KORSA bertanya kepada kami “Ada yang siap berangkat?” Dari sekitar 30 peserta, hanya saya dan Andri yang saat itu siap berangkat. Mungkin karena kaget dan belum siap meninggalkan amanah di Bandung, kawan-kawan saya di KORSA saat itu tidak bisa berangkat.

Berangkat
Hari ke-2 setelah gempa, kami berangkat sebagai Tim Advance (Pendahulu), berbekal ketetapan hati, semangat yang masih meletup, dan secuil ilmu selama diklatsar. Tim diketuai Kang Igun dengan anggota tim Kang Ozon, saya, dan Andri. Kawan-kawan saya yang berada di Bandung fokus pada administrasi, manajemen, penggalangan dana, dan persiapan program. Kami sebagai ujung tombak pergerakan, dan mereka support system yang tanpanya kami akan mati. Sebuah sinergi yang tak bisa dielakkan.

Kami berangkat ke Bengkulu bersama relawan lain dari ACT (Aksi Cepat Tanggap) via jalur laut dan darat. Ini pengalaman pertama saya keluar Jawa. Karena kami memang perlu cepat tiba, driver menjalankan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Jalan ke Bengkulu yang melalui jalur hutan tentu sangat tidak bersahabat. Berkelok-kelok dan berbatu-batu, belum lagi muatan mobil yang penuh sesak. Sangat menyebalkan, hingga di satu titik… tak kuat lagi awak. Muntahkan sajalah isi perut ni.

Belum selesai penderitaan.

Beberapa saat setelah itu. Ketika saya tengah terlelap dengan nyenyaknya, tiba-tiba mobil miring ke kiri, semakin miring, semakin miring,… dan terjungkallah sudah di belokan depan. Semua mulai saling bantu untuk keluar mobil. Ada satu orang yang panik. Dia teriak “Wah, kakiku patah. Kakiku patah!” Padahal gak apa ko. Itu imajinasi beliau saja ternyata. Kalau diingat sekarang, malah jadi lucu. Berikutnya, dengan dibantu warga sekitar, kami dapat melanjutkan perjalanan hingga tujuan. Mau nolong harus ngerasain ditolong dulu ternyata.

Work…work…work…
Hari pertama di Bengkulu, tim kami dibagi menjadi dua. Andri bareng Kang Ozon. Saya bareng Kang Igun. Belajar langsung praktek kepada sang mentor. Tugas pertama kami saat itu adalah assessment/pengumpulan data dan mencari basecamp selama di Bengkulu. Seharian itu, kami berkeliling daerah Bengkulu hingga ke Ketahun, daerah transmigran di tengah perkebunan kelapa sawit. Beuh…ternyata panas. Selama di sana jadi belajar bersyukur bisa tinggal di Bandung yang sejuk. (Oya, selama di sana, utk menghemat biaya operasional, kami numpang mobil LSM lain, termasuk ambulan-nya gerakan gereja. Jadi inget jaket keren awak yang tertinggal di sana. Hiks…)

Besoknya, saya bertugas bareng Andri. Sama-sama pemula di bidang volunterism. Kang Igun sama Kang Ozon hanya memberi tugas sederhana untuk kami. Assessment data di suatu tempat (Serangai namanya, daerah pantai yang terkena tsunami kecil) dan kembali lagi sore hari. Terserah bagaimana caranya. Hoho. Serasa jadi petualang, mengembara di nagari antah-barantah. Dengan harapan besar, pergilah dulu kami ke Universitas Bengkulu aka UNIB. Rencananya pinjem motor ke anak2 masjid kampus. Dan setelah cukup lama menanti, dapatlah motor itu. Senangnya. Terima kasih, kawan. (wah, lupa awak namanya).

(O iya, waktu masuk gerbang kampus, kami sempat digodain sama gadis-gadis FE UNIB sebanyak satu kelas lho. Wah, serasa jadi boyband gitu deh. Hehe. Emang repot jadi cowok cakep!)

Singkat cerita, selesailah tugas kami hari itu tanpa halangan berarti. Dan mulai malam itu, kami tinggal di Posko Muhammadiyah bersama relawan lain. (Sebelumnya tinggal di hotel lho! Hoho).

Hari-hari berikutnya kami mulai coba merekrut relawan lokal untuk menjalankan program sembari menanti kedatangan relawan gelombang II yang siap dengan programnya. Kadang saya pun dikirim tugas sendiri untuk koordinasi dengan LSM lain, termasuk pendistribusian logistik mereka.

Beberapa hari kemudian, Tim Hore-hore (sebut saja demikian, karena saat itu belum ada nama) yang dipimpin Pras tiba dari Bandung. Formasi mereka campur. Dua orang KORSA (Syifa, Mang Hendi), dua orang Karisma (Fauzi, Yahya), dua orang Psikologi UNPAD (Andi, Dicky), dan tiga orang dari SSG DT (Atar, Indah, Evi). Formasi yang meriah, tapi solid. Tugas mereka adalah melaksanakan program pendampingan anak-anak korban gempa di beberapa lokasi bencana. Sebelum terjun, kami melakukan pelatihan untuk relawan lokal. Dan ternyata, ada beberapa mahasiswa yang ikut gabung, salah satunya Fitri, yang hingga saat ini tertular virus volunteerism dan turun langsung ke gempa Padang.

Esok hari, seluruh Tim Hore (kecuali Pras dan Mang Hendi) ditugaskan ke SDN Lais dan menginap di tenda relawan selama beberapa hari. Selama di sana, Pras merupakan koordinator program sehingga lebih banyak berada di posko pusat, sedangkan Mang Hendi khusus di bidang logistik. Sedangkan fungsi Tim Advance mulai beralih. Kang Igun dan Kang Ozon menjadi PR, sedangkan saya dan Andri kerja bebas. Kadang ikut tim dokter melakukan pengobatan gratis, kadang ikut mereka, kadang distribusi logistik, dan kadang support Tim Hore. Kami di-set untuk mengetahui pekerjaan relawan secara menyeluruh, meskipun saya lebih banyak men-support Tim Hore.

Tugas Tim Hore sendiri adalah melakukan pendampingan anak-anak terhadap anak-anak usia sekolah dasar agar mereka kembali semangat bersekolah meskipun di dalam tenda. Ada tiga sekolah yang kami datangi: SDN 04 Lais, SDN 06 Batik Nau, dan SDN 011 Ketahun. SDN 04 Lais berada di daerah pantai, tapi karena letaknya cukup tinggi, sekolah ini relatif aman dari terjangan tsunami. Tim Hore bermalam lebih lama di sini dibandingkan daerah lain, sehingga kedekatan mereka dengan anak-anak terjalin lebih kuat. Bahkan ada beberapa anak yang menangis ketika Tim Hore pulang.

SDN 06 Batik Nau juga berada di pantai. Sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas yang akhirnya tidak bisa dipakai juga karena terjangan tsunami kecil. Tim Hore hanya satu hari di sini karena ketiadaan tempat tinggal.

SDN 011 Ketahun berada di perkebunan sawit. 100% penduduk daerah ini adalah pendatang dari Pulau Jawa, sehingga kami merasa lebih dekat dengan warga daerah ini.

Akses kendaraan ke lokasi sangat jarang. Kendaraan yang kami sewa hanya untuk antar jemput saja. Untuk hal lainnya, kadang jalan kaki, nebeng LSM lain (lagi), atau nebeng truk sawit. Ada dua hal yang saya ingat tentang ini. Yang pertama waktu bareng Kang Atar ke Posko Partai Kita Semua (hehe) untuk ketemu Ust. Hidayat Nur Wahid. Eh, setelah jalan kaki beberapa kilometer, beliau sudah ke tempat lain. Akhirnya kami malah tertidur pulas di masjid. Yang kedua, saat akan kembali ke posko utama di Kota Bengkulu (yang jaraknya jauh banget) bareng Indah. Semua kendaraan yang lewat kami coba hentikan. Eh, tak kunjung henti. Akhirnya setelah setengah jam lebih, ada truk pengangkut sawit berhenti. Alahamdulillah. Dengan riang hati aku naik di atasnya, sedangkan Indah duduk di samping Pak Kusir eh pak supir yang sedang bekerja. Hoho.

O iya, Tim Hore menamakan diri mereka Pasukan Zigong Ukhuwah. Mau tau kenapa? Harus tanya Syifa tuh.

Setelah semua tugas selesai, program berikutnya adalah recovery untuk relawan (volunteer’s recovery) dengan mengunjungi beberapa daerah wisata di Bengkulu. Kenapa hal ini perlu? Bukan hanya perlu, tapi penting, sangat penting. Harap diingat, relawan adalah manusia biasa. Kami hanya memiliki sedikit kelebihan waktu dan tenaga untuk diberikan pada sesama. Jenuh, lelah, kesakitan. Kami juga merasakan, hanya saja kami merasa itu tidak perlu diperlihatkan. Tak mengapa jika di antara kami ada beberapa yang mengorbankan kuliahnya. Ada yang meninggalkan pekerjaannya. Bahkan, ada yang meninggalkan anak-istrinya. Dan di hari terakhirlah, kami lepaskan semua beban yang ada. Allahu akbar!

Pulang
Saatnya berkemas, saatnya berpisah. O iya, jadi ingat! Buka puasa kami terakhir di Bengkulu itu disuguhkan menu khusus oleh Bunda, yaitu… semur jengkol. Wakakakaka. Mak nyus. Eh, aku belum cerita soal Bunda. Durhaka nih. Sekilas aja deh. Jadi, Bunda itu yang ngurus logistik buat relawan di posko. Udah jadi seperti ibu angkat untuk para relawan. Makanya dipanggil Bunda.

Berbeda dengan berangkat. Pulangnya kami via jalur udara. Senangnya…ini pertama kalinya saya naik pesawat udara. Ga apa dh meski Adam Air, yang penting naik pesawat. Hehe. Akhirnya bisa jadi mahasiswa Teknik Penerbangan yang utuh, bisa merasakan terbang betulan. Saking senangnya, saya tidak tidur selama perjalanan. Mencoba menikmati detik-detik kepergian kami meninggalkan Bengkulu. Menatap kepakan sayap pesawat (lho?). Menatap birunya langit. Menatap indahnya zamrud khatulistiwa. Menikmati setiap detik perjalanan dan kebersamaan terakhir kami, hingga akhirnya sang burung besi menapakkan kembali cakarnya di Halim Perdanakusuma. Jakarta yang gersang.

Wah, jadi panjang ternyata. Thanx sudah bersedia membaca hingga akhir. Mungkin tulisan ini kurang menyentuh. Tapi kesan setiap orang akan sesuatu pasti berbeda. Begitu pula hal ini. Akan berbeda jika ditulis oleh Syifa, Atar, Andri, Fitri, atau yang lain. (yang ga disebut jangan marah ya. Ayo, yang lain tulis juga pengalamannya).

Menarik. Kehidupan seorang volunteer itu sangat menarik jika kita bisa menikmatinya dengan benar. Akan ada banyak hal yang akan kita peroleh, terasa atau pun tidak. Meski ada juga yang harus kita pertaruhkan. Tapi semuanya berharga. Amat sangat. Dan akhirnya, sederhana saja keinginan kami. Menjadi inspirasi. Menjadi inspirasi untuk orang lain agar dapat berbuat kebaikan. Sekecil apa pun. Semampu kita. Dan tak perlu terlalu memaksakan diri. Karena kita dapat menjadi yang terbaik dan melakukan yang terbaik jika kita melakukannya sesuai apa adanya diri kita. Karena yang paling penting adalah keihlasan kita melakukannya.

- KORSA -

  1. sutanrajodilangik
    January 20, 2010 at 8:28 am | #1

    pak, di update atuh beritanya…..

  2. February 9, 2010 at 2:34 pm | #2

    bung, kow juga buatlah cerita tentang perjalananmu di sini

  3. Ryan
    March 19, 2010 at 10:34 am | #3

    Subhanallah kerennn…..
    tak bisa berkomen-komen…..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.